Sunday, 20 March 2016
SEJARAH NAHDLATUL ULAMA ( NU )
SEJARAH
NAHDLATUL ULAMA ( NU )
Nahdatul Ulama disingkat NU, yang
merupakan suatu jam’iyah Diniyah Islamiyah yang berarti
Organisasi Keagamaan Islam. Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926
M/16 Rajab 1344 H. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi terbesar
di Indonesia dewasa ini. NU mempersatukan solidaritas ulama tradisional dan
para pengikut mereka yang berfaham salah satu dari empat mazhab Fikih Islam
Sunni terutama Mazhab Syafi’i. Basis sosial Nu dahulu dan kini terutama masih
berada di pesantren.
Sebagai latar belakang terbentuknya
organisasi NU ini adalah: gerakan pembaruan di Mesir dan sebagian Timur Tengah
lainnya dengan munculnya gagasan Pan-Islamisme yang dipelopori Jamaluddin
al-Afghani untuk mempersatukan seluruh dunia Islam. Sementara di Turki bangkit
gerakan nasionalisme yang kemudian meruntuhkan Khalifah Usmaniyah.
Latar Belakang dan
Sejarah Berdirinya Nahdhatul Ulama (NU)
Jika di Mesir dan Turki gerakan
pembaruan muncul akibat kesadaran politik atas ketertinggalan mereka dari
Barat, di Arab Saudi tampil gerakan Wahabi yang bergulat dengan persoalan
internal umat Islam sendiri, yaitu reformasi faham tauhid dan konservasi dalam
bidang hukum yang menurut mereka telah dirusak oleh khurafat dan
kemusyrikan yang melanda umat Islam.
Sementara di Indonesia tumbuh organisasi
sosial kebangsaan dan keagamaan yang bertujuan untuk memajukan kehidupan umat,
seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Syarekat Islam (11 November 1912), dan
kemudian disusul Muhammadiyah (18 Nopember 1912).
Hal-hal tersebut telah membangkitkan
semangat beberapa pemuda Islam Indonesia untuk membentuk organisasi pendidikan
dan dakwah, seperti Nahdatul Wathan (Kebangkitan tanah
air), dan Taswirul Afkar (potret pemikiran). Kedua organisasi
dirintis bersama oleh Abdul Wahab Hasbullah dan Mas Mansur organisasi inilah
yang menjadi cikal bakal lahirnya NU.
Pada saat yang sama, tantangan pembaruan
yang dibawah oleh Muhammad Abduh di Mesir mempengaruhi ulama Indonesia dalam
bentuk Muhammadiyah, yakni organisasi Islam terbesar kedua pada abad ke-20 di
Indonesia. Penghapusan kekhalifahan di Turki dan kejatuhan Hijaz ke tangan Ibn
Sa’ud yang menganut Wahabiyah pada tahun 1924 memicu konflik terbuka dalam
masyarakat Muslim Indonesia. Perubahan-perubahan ini mengganggu sebagian besar
ulama Jawa, termasuk Hasbullah. Dia dan ulama sefaham menyadari serta melakukan
usaha-usaha untuk melawan ancaman bid’ah tersebut serta merupakan kebutuhan
yang mendesak. Hasyim As’ari (1871-1947) Kiai dari pesantren Tebuireng,
Jombang, Jawa Timur, yang merupakan ulama Jawa paling disegani-menyetujui
permintaan mereka untuk membentuk NU pada tahun 1926 dan dia menjadi ketua
pertamanya atau ro’is akbar.
Khittah NU 1926 menyatakan tujuan NU
sebagai berikut:
1. Meningkatkan hubungan antar ulama dari
berbagai mazhab sunni
2. Meneliti kitab-kitab pesantren untuk
menentukan kesesuaian dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah
3. Meneliti kitab-kitab di pesantren untuk
menentukan kesesuaiannya dengan ajaranahlusunnah wal-jama’ah
4. Mendakwahkan Islam berdasarkan ajaran
empat mazhab
5. Mendirikan Madrasah, mengurus masjid,
tempat-tempat ibadah, dan pondok pesantren, mengurus yatim piatu dan fakir
miskin
6. Dan membentuk organisasi untuk memajukan
pertanian, perdagangan, dan industri yang halal menurut hukum Islam
Dari keenam usaha tersebut, hanya satu
butir saja yaitu usaha pertanian, perdagangan dan industri yang tidak
berhubungan langsung dengan kehidupan kaum ulama secara khusus.
Hasil Muktamar XXVII NU di Situbondo
pada tahun 1984, melalui sebuah keputusan yang disebut “Khittah Nahdatul
Ulama”, menegaskan kembali usaha-usaha tersebut dalam empat butir. Pertama,
peningkatan silaturrahmi antar ulama. Kedua, peningkatan kegiatan di bidang
keilmuan/pengkajian/pendidikan. Ketiga, peningkatan penyiaran Islam,
pembangunan sarana-sarana peribadatan dan pelayanan sosial. Keempat,
peningkatan taraf dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan yang terarah,
mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan-urusan pertanian, perniagaan dan
perusahaan yang tidak dilarang oleh syara’.
Dengan
demikian pengaruh ulama sangat besar dalam NU, dan telah mendapat konfirmasi
dari Khittah NU. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya NU adalah Jam’iyyah
Diniyyahyang membawakan faham keagamaan, sehingga yang menjadi mata rantai
pembawa faham Islam Ahlussunnah wal-jama’ah, selalu ditempatkan
sebagai pengelola, pengendali, pengawas dan pembimbing utama jalannya
organisasi.
Selanjutnya akan dijelaskan sekilas
tentang lambang NU, lambang NU ini dibuat pada tahun 1927. Mempunyai lambang
sebuah bintang besar di atas bumi menyimbolkan Nabi Muhammad, empat bintang
kecil, masing-masing dua disebelah kanan dan kiri bintang besar, melambangkan
empat khulafa’al-Rasyidin; dan empat bintang kecil di bawah melambangkan empat
Imam Mazhab sunni; kesembilan bintang tadi secara bersama-sama juga bermakna
sembailan wali (Wali Songo) yang pertama kali menyebarkan agama Islam di jawa.
Bola dunia yang berwarna hijau melambangkan asal-usul kemanusiaan, yaitu bumi,
yang kepadanya manusia akan kembali dan dirinya manusia akan kembali dan
manusia akan dibangkitkan pada hari pembalasan. Tali kekemasan yang melingkari
bumi dengan 99 ikatan melambangkan 99 nama-nama indah Tuhan, yang dengannya
seluruh muslim di dunia disatukan.











0 comments:
Post a Comment