Tuesday, 22 March 2016
Home »
BANOM MUSLIMAT NU
,
MUSLIMAT NU
,
SEJARAH BANOM MUSLIMAT NU
,
SEJARAH MUSLIMAT NU
,
SEJARAH SINGKAT MUSLIMAT NU
» SEJARAH MUSLIMAT NU
SEJARAH MUSLIMAT NU
Sejarah
pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan pergunulan yang
amat sengit yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan wanita baik Muslimat,
fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.
Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun
1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis
terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU
adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka.
Para ulama NU saat itu masih berpendapat
bahwa wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak
wanita cukuplah di rumah saja masih kuat melekat pada umumnya warga NU
saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang
cukup hangat tentang perlu tidaknya wanita berkecimpung dalam organisasi.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil
seorang muslimat NU di atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU
mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam menerima didikan agama
melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo :
15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare
vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, …
Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang
memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan
lainnja dengan batas kain poetih.” Sejak kongres NU di Menes, wanita telah
secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya
sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki kursi
kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di
Surabaya tahun 1940.
Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang
cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri,
mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak
yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta
kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga
kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat
menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya
keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani
Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya
secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses
penerimaan dapat berjalan dengan lancar.
Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang
terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi
cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian
hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU
secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365.
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Muslimat NU sebagai
wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada
agama, bangsa dan negara.
Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal
Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang wanita di lingkungan NU itu
selama dua tahun yakni sampai Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat
berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan
NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam
kepeloporannya di bidang gerakan wanita.
Pada Muktamar NU XIX, 28 Mei 1952 di Palembang,
NOM menjadi badan otonom dari NU dengan nama baru Muslimat NU.











0 comments:
Post a Comment