IPNU

Sejarah kelahiran IPPNU dimulai dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta.

IPPNU

Sejarah kelahiran IPPNU dimulai dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta.

NADLATUL ULAMA

Nahdatul Ulama disingkat NU, yang merupakan suatu jam’iyah Diniyah Islamiyah yang berarti Organisasi Keagamaan Islam. Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H.

SEJARAH MUSLIMAT NU

SEJARAH MUSLIMAT NU : Sejarah pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan pergunulan yang amat sengit yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan wanita baik Muslimat, fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.

ANSOR NU

Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan.

RAPAT

Kegiatan rapat rutinan di rumah Rekan Muh. Syamsul Arifin pada Malam Kamis, 30 Maret 2016 Rapat pada malam ini di hadiri oleh sebagian anggota pengurus PAC Tempurejo, tidak bisa hadir semua dikarenakan rapat ini dilaksanakan pada malam hari.

Do'a Pelunas Hutang

Untuk lunas hutang, coba baca "Alloohu Robbii. Laa usyriku bihii syai-aa". Allah itu Tuhanku. Pelunas hutangku. Pemberi rizki buatku. Penolongku

Do'a Pelunas Hutang

Konferensi Anak Cabang ( KONFERANCAB ) Kecamatan Tempurejo, yang dilaksanakan di desa curahtakir kec. Tempurejo, tepatnya di SMP 13 Tempurejo di rumahnya Gus Sodik desa curahtakir.

RAPIMCAB

Rapat Pimpinan Cabang Kabupaten Jember ( RAPIMCAB ) dilaksanakan di SMK Al-Munawaroh desa Kraton Wonoasri

Panglima Tertinggi Para Malaikat dan Malaikat Pengatur Dunia

Jumlah malaikat yang pasti sangat banyak dan melebihi jumlah manusia. Tidak ada yang tahu persis jumlahnya kecuali Allah SWT. Jumlah malaikat

Tuesday, 31 January 2017

Harlah Nahdlatul Ulama Ke 91

Harlah Nahdlatul Ulama' Ke 91

Ini lah organisasi besar yang telah didirikan oleh ulama besar yang punyai nama Hadrotus Syeh KH. Hasyim Asyari. Beliau lah seorang ulama' besar yang telah mendirikan dan memperjuangkan Organisasi NU hingga besar seperti saat ini.

Sembilan Satu, ya ini lah Harlah NU yang saat ini sudah berdiri sebegitu lama. Tepat pada 31 Januari, NU sudah berusian 91 Tahun.

PAC IPNU IPPNU Kec. Tempurejo Kab. Jember, Ikut berbangga dan senang hati dengan adanya Harlah NU yang ke 91 ini. Kami sekeluarga mengucapkan selamat Harlah untuk Organisasi terbesar di Dunia ini yaitu " Nahdlatul Ulama' "

Kami cinta IPNU IPPNU
Kami Bangga menjadi Warga NU
dan kami pun bangga menjadi Santri Mbah Kyai Hasyim Asyari





Editing : Ahmad Muttaqin

Friday, 13 January 2017

Kenapa dinamakan Sholat Awwabin ?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhE1Pl93YUmRrj_o9zBT0tfB3HT7N6EYIVQVWeMLdW3ZByGhOXFWCdu28RlEvSWXFKAIPSsCBrKfTy5P9I-HyNH13s4FavshqmsdgAnnP6OzBWY77EieKCdqnaQRRO1vqLv1t2ez2NGso/s1600/tahajud.jpg

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

Pertanyaannya kemudian, kenapa dinamai shalat Awwabin? Disebut “shalat Awwabin” karena orang yang menjalankannya itu kembali kepada Allah dan bertobat dari kesalahan yang dilakukan pada siang hari. Ketika ia menjalankan shalat tersebut berulang-ulang, maka hal itu merupakan penanda pertobatan atau kembalinya ia kepada Allah kendati hal tersebut tidak disadarinya.

وَصَلَاةُ الْأَوَّابِينَ وَإِنَّمَا سُمِّيَتْ صَلَاةَ الْأَوَّابِينَ ؛ لِأَنَّ فَاعِلَهَا رَجَعَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى وَتَابَ مِمَّا فَعَلَهُ فِي نَهَارِهِ فَإِذَا تَكَرَّرَ ذَلِكَ مِنْهُ دَلَّ عَلَى رُجُوعِهِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَوْ لَمْ يُلَاحَظْ ذَلِكَ الْمَعْنَى

Artinya, “Dinamai shalat Awwabin sebab orang yang menjalankannya itu kembali kepada Allah dan bertobat dari kesalahan yang ia lakukan pada siang hari. Karenanya, ketika ia melakukannya berulang-ulang, maka hal itu merupakan penanda kembalinya ia (bertobat) kepada Allah ta’ala meskipun itu tidak disadarinya,” (Lihat Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, Beirut, Daru Fikr, juz, 609).

Shalat Awwabin juga disebut “shalat ghaflah” (shalat lalai). Menurut apa yang kami pahami dari keterangan di kitab Al-Iqna`, disebut demikian karena umumnya orang cenderung lalai pada saat antara Maghrib dan Isya karena disibukkan dengan aktivitas lain seperti makan malam, tidur, dan lain sebagainya.

Sedang jumlah rakaat shalat Awwabin adalah dua puluh dan minimal dua rakaat.

وَصَلَاةُ الْأَوَّابِينَ وَتُسَمَّى صَلَاةَ الْغَفْلَةِ لِغَفْلَةِ النَّاسِ عَنْهَا بِسَبَبِ عَشَاءٍ أَوْ نَوْمٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَأَقلُّهَا رَكْعَتَانِ

Artinya, “Shalat Awwabin (disebut juga, pent) ‘shalat Ghaflah’ (lalai) karena kelalaian orang-orang atas shalat tersebut oleh aktivitas seperti makan malam, tidur, dan selainnya. Sedang jumlah rakaatnya adalah dua puluh di antara Maghrib dan Isya. Minimal adalah dua rakaat,” (Lihat Muhammad Asy-Syarbini Al-Khathib, Al-Iqna` fi Halli Alfazhi Abi Syujja’, Beirut, Darul Fikr, 1415 H, juz I, halaman 118).

Dalam hadist yang diriwayatkan At-Tirmidzi dijelaskan mengenai fadhilah atau keutamaan dari shalat Awwabin. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang menjalankan shalat Awwabin enam rakaat akan mendapatkan pahala setara ibadah dua belas tahun.

مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ كَتَبَ اللهُ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ سَنَةً

Artinya, “Barang siapa yang melaksanakan shalat Awwabin enam rakaat maka Allah catat baginya pahala ibadah dua belas tahun,” (HR Tirmidzi).



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74600/penjelasan-seputar-shalat-sunah-awwabin

Editing : Ahmad Muttaqin

Tuesday, 10 January 2017

Bendung HOAX !! Nasehat Mbah KH. Sholeh

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

Maraknya berita hoax yang beredar bebas akhir-akhir ini menjadi keprihatinan bersama. Hoax diartikan sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Aneh sekali, kebohongan sengaja diproduksi demi fitnah. Ini adalah tanda-tanda akhir zaman. Orang tidak malu berbohong dan bangga dengan menyebar fitnah. Ada lagi yang parah, fitnah menjadi "industri" yang menghasilnya uang. Naudzubillah min dzalik. Fitnah berupa hoax kali ini tidak hanya terucap dari lisan, tapi sudah menjadi tulisan-tulisan yang disebarkan lewat media sosial .

Bagaimana sebagai Muslim, kita dapat membendung agar hoax itu tidak terjadi? Yang jelas bahwa hoax itu diproduksi manusia. Berarti unsur manusia itulah yang harus dididik. Manusia yang berani memproduk hoax sama halnya melaksanakan kemaksiyatan. Dan agar jauh dari kemaksiyatan, ketaqwaan itu menjadi kunci utama. Dengan memegang teguh dan melaksanakan ketaqwaan sejati, sangat tidak mungkin hoax disebarkan.

Ada pesan menarik dari Maha Guru Ulama Nusantara, KH Sholeh Darat (1820-1903) tentang perilaku negatif yang harus dijaga dalam hidup, yakni bahaya lisan. Keterangan ini dapat dilihat dalam Kitab Munjiyat halaman 14 yang ditulis pada bab: "Sifat Madzmumah Kaping Pat Iku Afatul Lisan".

Disebutkan oleh Mbah Sholeh Darat secara tegas bahwa lisan adalah anggota tubuh yang mulia dan sebuah kenikmatan agung. Maka menjaga lisan itu menjadi sebuah kewajiban agar tidak terjadi kerusakan. Jika tidak bisa menjaga lisan, maka sudah dipastikan ada setan yang menggodanya.

Itulah gambaran utama Mbah Sholeh Darat tentang pentingnya menjaga lisan. Hoax yang muncul adalah akibat tidak bisa menjaga lisan—yang kini berubah dengan tidak bisa menjaga tulisan-tulisan yang disebarkan di medsos. Mbah Sholeh Darat pun sudah merespon sejak dahulu kala. Bahwa proses menjaga lisan agar tidak menjelekkan orang itu tidak hanya dilakukan dengan lisan saja, tapi bisa dalam bentuk lain.

Mbah Sholeh Darat menyebutkan: "Lan setuhune ngrasani iku ora temtu kelawan pengucape lisan bahe balik  endi-endi ingkang aweh weruh kelawan ngina-ngina iya iku ngerasani arane. Kaya layang atau persemon atau isyarat atau penjiwit maka iku kabeh iya haram; Sesungguhnya membicarakan kejelekan orang itu tidak hanya dengan ucapan lisan saja, tapi apa saja yang disebutkan guna menjelekkan orang disebut "ngrasani". Seperti dengan surat, sindiran, isyarat atau cubitan itu semuanya haram".

Tegas sekali kalimat pesan itu. Dimana tingkah laku menjelekkan orang lain masuk kategori perbuatan haram (dilarang oleh agama yang menghasilkan dosa besar). Media menjelekkan orang lain juga tidak hanya dengan lisan saja, tapi bisa berkembang dengan surat/tulisan, sindiran, isyarat atau cubitan. Jika kalimat itu kita maknai di hari ini, menjelakkan orang bisa dilakukan dengan medsos.

Dalam rangka mengurangi kemaksiyatan yang dilakukan oleh lisan, maka Rasulullah Saw meminta para Muslim untuk diam agar selamat. Rasulullah Saw juga bersabda: Barangsiapa dapat menjaga perutnya dari makan haram, dan menjaga kemaluan dari kehinaan, dan menjaga semuanya saja dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka akan dijaga dari semua kejelekan dan kerusakan.

Untuk menjaga bahaya lisan ini agar tidak mudah menyebar hoax, maka Mbah Sholeh Darat menyebutkan agar menghindari dua puluh perilaku: bicara yang tidak manfaat, berlebihan bicara, masuk pembicaraan buruk, debat yang tidak berujung, bertengkar, melagukan kejelekan, mencela, melaknat hewan, menyanyi, tertawa lepas, menertawakan orang, membuka rahasia, perjanjian bohong, bicara bohong, sumpah palsu, ngrasani, adu domba, mempunyai dua lisan menjual informasi orang yang berseteru, memuji manusia, membahas ilmu agama yang lembut tanpa bekal ilmu, bertanya kepada orang awam tentang sifat Allah.

Dari dua puluh bahaya lisan ini dapat diambil garis intinya, bahwa lisan itu bisa terjaga karena dirinya sendiri dapat mengendalikan dan dapat menjaga iri terhadap orang lain. Termasuk agar orang dapat menjaga lisan, maka butuh dekat pada Allah dengan bekal ilmu yang baik. Demikianlah pesan singkat Mbah Sholeh Darat yang terkait dengan bahayanya lisan, yang hari ini dapat kita tarik sebagai peringatan kita agar menjaga lisan dalam membendung hoax.

Penulis adalah Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat) dan Dosen UIN Walisongo Semarang.



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74530/nasihat-kh-sholeh-darat-membendung-hoax

Editing : Ahmad Muttaqin

Friday, 6 January 2017

Amalan Yang Dibacakan untuk Perempuan Yang Hamil Tua

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

http://smile-and-joy.blogspot.co.id/2015/05/cerita-kehamilanku-part-2.html
Assalamu ’alaikum wr. wb.
 
Redaksi Bahtsul Masail NU yang kami hormati. Menurut prediksi dokter, insya Allah dalam sebulan lagi istri saya akan melahirkan anak pertama. Yang ingin saya tanyakan adalah, apa amalan atau doa yang sebaiknya dibaca ketika istri hendak melahirkan? Mohon penjelasan secepatnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Frengki/Kebumen)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Kodrat perempuan adalah melahirkan. Inilah pertaruhan antara hidup dan mati bagi seorang perempuan. Memperbanyak doa adalah hal sebaiknya dilakukan baik oleh suami maupun istri agar melahirkan dengan lancar dan tidak ada gangguan berarti.

Lantas bagaimana dengan doa atau amalan yang dibacakan kepada perempuan yang hendak melahirkan? Banyak doa dan amalan yang terkait persoalan ini telah diajarkan oleh para ulama dan kiai-kiai kita.

Di antara amalan atau bacaan yang dibacakan di samping perempuan yang hendak melahirkan adalah ayat Kursi, ayat 54 surat Al-A’raf, surat Al-Falaq, dan An-Nas. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyyah karya Muhyiddin Syaraf An-Nawawi.

Dalam kitab tersebut, Muhyiddin Syaraf An-Nawawi mengutip riwayat yang terdapat dalam kitab Ibnus Sinni yang menyatakan bahwa ketika masa kelahiran putri Rasulullah saw yaitu Fathimah RA sudah dekat, beliau meminta kepada sayyidah Ummu Salamah RA dan Zainab bin Jahsy ra untuk mendatangi Fathimah RA dan membacakan di sampingnya ayat kursi, ayat 54 surat Al-A’raf, dan surat Al-Falaq dan An-Nas.
وَرَوَيْنَا فِي كِتَابِ ابْنِ السُّنِّيِّ عَنْ فَاطِمَةَ رضي الله عنها " أَنَّ رَسُولَ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) لَمَا دَنَا وَلَادُهَا أَمَرَ أُمَّ سَلَمَةَ وَزَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ أَنْ يَأْتِيَا فَيُقْرَآُ عِنْدهَا آيَةُ الْكُرْسِيِّ ، و (إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ..) إلى آخر الآية [ الاعراف : 54 ] وَيُعَوَّذَاهَا بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ

Artinya, “Kami telah meriwayatkan dalam kitab Ibnus Sinni dari Fathimah RA, bahwa ketika waktu kelahiran (Fathimah RA) sudah dekat, beliau meminta kepada Ummu Salamah RA dan Zainab binti Jahsy RA untuk mendatangi Fathimah RA dan dibacakan di sampingnya ayat Kursi, ayat 54 Surat Al-A’raf, dan surat mu’awwidztain (surat Al-Falaq dan An-Nas),” (Lihat Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyyah, Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyyah, cet ke-1, 1425 H/2004 M, halaman 294).

Saran kami, perbanyaklah doa untuk kelancaran persalinan istri dan keselamatan sang bayi yang kelak dilahirkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74371/amalan-yang-dibacakan-untuk-perempuan-yang-hamil-tua
Editing : Ahmad Muttaqin

Hukum Pengucapan Selamat Tahun Baru. Boleh atau tidak ?

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati, belakangan ini ramai orang mempermasalahkan pengucapan “Selamat tahun baru”. Karena dalam waktu dekat pergantian tahun segara terjadi. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum Islam memandang masalah ini? Karena meskipun sepele, banyak orang mempermasalahkannya dengan serius. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suryono/Surabaya)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagai orang beriman kepada Allah SWT kita dituntut untuk optimis, bukan pesimis atau putus asa. Karena orang beriman menggantungkan dan memasrahkan segala kehidupannya kepada Allah SWT .

Berpijak pada landasan itu kita mesti menyambut pergantian tahun dengan gembira dan bahagia. Karena pada tahun yang baru ini banyak peluang, kesempatan, kemungkinan, dan harapan baru terbuka.

Di samping kita sendiri menyongsong tahun baru dengan gembira penuh harap, kita juga menyaksikan kebahagiaan orang lain dalam menyambut tahun baru. Di sini kita dituntut untuk ikut serta dalam perasaan gembira bersama orang lain seperti ajaran Rasulullah SAW perihal hak-hak terhadap tetangga sebagai berikut.
خاتمة : روى الطبراني في مسند الشاميين ، والخرائطي في مكارم الأخلاق عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : أتدرون ما حق الجار ؟ إن استعان بك أعنته ، وإن استقرضك أقرضته ، وإن أصابه خير هنأته ، وإن أصابته مصيبة عزيته الحديث وله شاهد من حديث معاذ بن جبل أخرجه أبو الشيخ في الثواب ، ومن حديث معاوية بن حيدة أخرجه الطبراني في الكبير .

Artinya, “Penutup, Imam At-Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin dan Al-Khara’ithi dalam Makarimul Akhlaq dari Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukan kalian apa hak tetangga? Jika ia meminta bantuanmu, bantulah. Bila ia meminjam sesuatu padamu, pinjamkanlah. Saat ia mengalami kebahagiaan, ucapkanlah ‘selamat’. Jika ia mengalami penderitaan, hiburlah...’ (bacalah terusan hadits ini). Hadits ini diperkuat oleh hadits lain dari Mu’adz bin Jabal yang diriwayatkan Abu Syekh dalam At-Tsawab; dan dari Mu’awiyah bin Haidah yang diriwayatkan At-Thabarani dalam Al-Kabir.”

Lalu bagaimana dengan pengucapan “Selamat tahun baru”, “Happy new year”, atau pengucapan lainnya yang semakna dengan itu? Banyak orang berbeda pendapat perihal ini. Berikut ini kami kutip penjelasan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kumpulan fatwanya perihal pengucapan “Selamat hari raya Idul Fithri atau Idul Adha”, “Selamat bulan baru”, atau “Selamat tahun baru”.

قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه .

Artinya, “Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan, ‘Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan Al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 83).

Simpulan kami, Islam tidak memberikan larangan pengucapan “Selamat hari raya Idul Fithri” atau “Selamat tahun baru”. Karena memang tidak ada perintah atau larangan secara spesifik perihal ini.

Pergantian tahun memang patut disyukuri. Keterbukaan kesempatan dan harapan baru dengan datangnya tahun baru patut disongsong dengan rasa syukur.

Ada baiknya di tengah pergantian tahun kita berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan di tahun baru ini dan dijauhkan dari segala petaka yang ada di dalamnya. Tidak salah juga kalau kita berbagi kebahagiaan dengan menyantuni orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan, menjenguk tetangga yang terbaring sakit, atau menggelar aksi amal lainnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
 
 
 
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74272/hukum-pengucapan-selamat-tahun-baru
 
Editing : Ahmad Muttaqin

Pendidikan Pesantren Solusi Bekali Anak Cerdas, Sholih dan Sholihah

PAC IPNU IPPNU Tempurejo
Probolinggo, PP IPNU – Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masalah pendidikan saat ini menjadi tantangan tersendiri masyarakat yang masih memiliki anak usia sekolah. Solusinya adalah memasukkan anaknya di lingkungan pondok pesantren yang memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.
Hal tersebut disampaikan oleh Hasan Aminuddin saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi di Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo, Senin (26/12).
“Pendidikan pondok pesantren menjadi solusi bagi para orang tua dalam memberikan ilmu kepada anak-anaknya. Sebab di pesantren, selain diberikan ilmu umum, anak juga dibekali ilmu agama agar memiliki akhlak yang baik,” katanya.
Demi menjawab kepercayaan masyarakat tersebut jelas Hasan, maka manajemen di lingkungan pendidikan pondok pesantren harus dirubah sehingga keberadaan pondok pesantren bisa memberikan manfaat bagi orang tua.
“Pilihan pendidikan di pesantren tentunya akan menghemat pengeluaran orang tua terhadap kebutuhan anaknya dibandingkan jika anaknya tidak berada di pesantren. Tentunya hal ini juga menghindari tuntutan yang tidak bermanfaat dan merusak karakter serta perilaku akhlak para santri,” jelasnya.
Dengan berada di lingkungan pesantren jelas Hasan, maka nantinya akan mampu membentengi anak dari hal-hal negatif akibat perkembangan zaman yang saat ini sudah sangat luar biasa. “Setidaknya dengan berada di pesantren, maka nantinya dapat mencetak karakter para santri yang lebih baik dan bermanfaat,” terangnya.
Hasan menghimbau kepada para orang tua agar selalu mendoakan anak-anaknya supaya menjadi anak yang bermanfaat dan berkualitas. Apalagi di pesantren anaknya diberikan pembelajaran tentang perilaku dan akhlak pada anak didiknya. “Sehingga nanti ilmu yang diajarkan kepada anaknya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” pungkasnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ad-Dasuqqi KH. Fakhrur Rozi Baqir, Pimpinan Bank Jatim Cabang Kraksaan Elfaurid Aguswantoro, Camat Banyuanyar H. Didik Abdul Rohim serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)
Sumber : https://www.ipnu.or.id/pendidikan-pesantren-solusi-bekali-anak/
Editing : Ahmad Muttaqin

Panglima Tertinggi Para Malaikat dan Malaikat Pengatur Dunia

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

Assalamu ’alaikum wr. wb.
 
Pak ustadz, langsung saja, saya ini adalah orang yang awam tentang agama. Saya ingin menanyakan tentang hal yang terkait dengan malaikat. Yang ingin saya tanyakan adalah berapa jumlah malaikat, malaikat siapa yang menjadi pemimpin mereka. Dan yang terakhir siapa yang malaikat yang mengatur urusan dunia. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Susanto/Kota Tangerang)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Para malaikat adalah makhluk Allah swt yang mendedikasikan dirinya hanya untuk beribadah dan taat kepada-Nya. Mereka tercipta dari nur atau cahaya (khuliqatil mala`ikah min nur).

Untuk menjawab persoalan tentang malaikat, kami akan merujuk pada salah satu kitab yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi yang bertitel, Al-Haba`ik fi Akhabaril Mala`ik, yaitu sebuah kitab yang berisi pelbagai riwayat mengenai malaikat.

Jumlah malaikat yang pasti sangat banyak dan melebihi jumlah manusia. Tidak ada yang tahu persis jumlahnya kecuali Allah SWT. Jumlah malaikat yang sangat banyak digambarkan dalam sebuah riwayat bahwa tidak ada sejengkal tempat pun di langit kecuali di situ ada malaikat. Ada dari mereka yang bersujud dan ada pula yang berdiri sampai hari kiamat.

وَأَخْرَجَ اَبُو الشَّيْخِ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ مَا فِى السَّمَوَاتِ شَيْءٌ مِنْهَا مَوْضِعٌ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ إِمَّا سَاجِدٌ وَإِمَّا قَائِمٌ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Artinya, “Abus Syekh telah menulis riwayat yang terdapat dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Mas’ud RA. Ia berkata, ‘Tidak ada sejengkal tempat di langit kecuali kecuali di atasnya ada malaikat, ada yang bersujud dan ada yang berdiri sampai hari kiamat,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1405 H/1985 M, h 11).

Sedangkan pemimpin atau panglima tertinggi adalah malaikat Jibril. Hal ini didasarkan pada riwayat yang menyatakan bahwa Jibril adalah imam atau pemimpin tertinggi penduduk langit (imamu ahlis sama`).

وَأَخْرَجَ أَبُو الشَّيْخِ عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ بَلَغَنِي أَنَّ جِبْرِيلَ إِمَامُ أَهْلِ السَّمَاءِ

Artinya, “Abus Syekh telah meriwayatkan dari Musa bin Abi Aisyah. Ia berkata, ‘telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa malaikat Jibril adalah pemimpin atau imam penduduk langit,’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, halaman 19).

Selanjutnya mengenai tanggapan atas pertanyaan yang terakhir mengenai malaikat yang mengurusi urusan dunia. Setidaknya ada empat pimpinan malaikat yang diterjunkan untuk mengatur urusan dunia. Mereka adalah Jibril, Mikail, Israfil, dan malaikat Pencabut Nyawa. Demikian sebagaimana terekam dalam riwayat di bawah ini.

أَخْرَجَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخ ِفِى الْعُظْمَةِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ سَابِطٍ ، قَالَ : يُدَبِّرُ أَمْرَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ : جَبْرَائِيلُ وَمِيكَائِيلُ وَإِسْرَافِيلُ وَمَلَكُ الْمَوْتِ ، فَأَمَّا جَبْرَائِيلُ فَصَاحِبُ الْجُنُودِ وَالرِّيحِ ، وَأَمَّا مِيكَائِيلُ فَصَاحِبُ الْقَطْرِ وَالنَّبَاتِ ، وَأَمَّا مَلَكُ الْمَوْتِ فَمُوَكَّلٌ بِقَبْضِ الأَنْفُسِ ، وَإِمَّا إسْرَافِيلُ فَهُوَ يَنْزِلُ بِالْأَمْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Ibnu Abi Hatim dan Abus Syekh telah meriwayatkan dalam kitab Al-‘Uzhmah dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Sabith. Ia berkata, ada empat malaikat yang bertugas mengatur urusan dunia; Jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat Maut. Jibril adalah pemilik tentara dan angin. Mikail adalah pemilik hujan dan tumbuhan. Malaikat Maut ditugasi untuk mencabut nyawa. Sedangkan Israfil adalah komunikator di antara mereka,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, halaman 16).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74432/panglima-tertinggi-para-malaikat-dan-malaikat-pengatur-dunia

Editing : Ahmad Muttaqin

Thursday, 5 January 2017

Ini Doa saat Terbangun di Tengah Malam

PAC IPNU IPPNU Tempurejo

Istirahat malam tidak selalu menghabiskan waktu semalam suntuk. Kadang kita terbangun tengah malam karena pelbagai sebab. Pada saat istirahat terganggu tengah malam seperti ini Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk membaca doa sebagai berikut.

لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ أَسْتَغْفِرُكَ لِذَنْبِي وَأَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْماً وَلا تُزِغْ قَلْبِي بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنِي وَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Lâ ilâha illâ anta. Subhânakallâhumma, astaghfiruka li dzanbî, wa as’aluka rahmataka. Allâhumma zidnî ‘ilmâ, wa lâ tuzigh qalbî ba‘da idz hadaitani, wa hab lî min ladunka rahmatan innaka antal wahhâb.

Artinya, “Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku memohon ampun-Mu atas dosaku. Aku mengharapkan rahmat-Mu. Tuhanku, tambahkan ilmuku. Jangan Kausesatkan batinku setelah Kauberikan petunjuk padaku. Berikan aku rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkau maha pemberi.”

Doa ini disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Riwayat hadits ini menunjukkan betapa pentingnya zikir kepada Allah SWT dalam keadaan apapun. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74388/ini-doa-saat-terbangun-di-tengah-malam

Editing : Ahmad Muttaqin

Ragam Cara IPNU Banyuwangi Kembangkan SDM Kader

PAC IPNU IPPNU Tempurejo 
 
Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kabupaten Banywangi mengupayakan beragam cara untuk pengembangan SDM setiap kader. Karena peningkatan SDM  merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan perubahan di dunia pergerakan.

Hal ini disampaikan Ketua PC IPNU Banyuwangi M. Yahya Muzakki saat penutupan acara pelatihan jurnalistik di Seblang Room Radar Banyuwangi pada Rabu (4/1) siang. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dengan Radar Banyuwangi mulai Selasa sampai Rabu (3-4/1) yang diikuti 30 peserta lintas organisasi dan komunitas yang mewakili setiap kecamatan di kabupaten Banyuwangi.

Ia berharap setelah mengikuti pelatihan ini, kader-kader yang memiliki minat bakat dibidang tulis menulis ke depan semakin memantapkan penguasaan tulis-menulis berita khususnya.

"Disamping materi terkait jurnalistik, juga beberapa materi tambahan yang sangat penting. Diantaranya: Materi edukasi HIV/AIDS,  seni fotografi jurnalistik, pembuatan blog, dan teknik pendampingan di lapangan bagi orang-orang yang terkena HIV/AIDS," ungkapnya.

Ia menambahkan, output kegiatan tersebut adalah peserta diharapakan semakin mahir dalam bidang jurnalistik agar nantinya mereka turut membantu Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Banyuwangi dalam mendidik masyarakat.

Salah satu peserta pelatihan Awang Nuryaddin mengatakan, potret di masyarakat kita sering kali fobia ketika mendengar salah seorang warganya yang positif terkena kasus HIV/AIDS.

"Tak jarang masyarakat sering mengucilkan, mengintimidasi, bahkan membakar rumah salah satu warganya yang terkena virus ini. Sekali lagi, ini akibat belum komprehensifnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS," ungkap salah satu pengurus badan Student Crisis Center (SCC).

Dari sini kami bertekad turut membantu untuk mengedukasi masyarakat dengan bantuan kerja sama KPA. "Kami sudah diberikan arahan lengkap tentang HIV/AIDS, teknik menulis berita maupun opini, dan teknis membuat blog. Dengan modal keilmuan ini cukup bagi kita untuk mengedukasi masyarakat untuk menghilangkan fobia, dan selaku penyandang kasus dapat memberikan motivasi dalam langkah kehidupan yang lebih positif. Kasihan mereka yang terkena kasus mendapatkan respon masyarakat yang terlalu berlebihan," ungkapnya.

Sementara ketua PC IPPNU Banyuwangi Halimah mengatakan, pihaknya juga mendelegasikan kader IPPNU di pelatihan ini. Menurutnya, virus HIV/AIDS ini bukan hanya menyerang kaum laki-laki saja, tapi kaum hawa pun tak luput dari risiko terjangkitnya virus tersebut.

"Terus semangat belajar, berjuang, dan bertaqwa," tutup pelajar asal Purwoharjo.

Pelatihan ini juga mendapatkan sambutan langsung dari Skretaris KPA Banyuwangi Waluyo dan Redaktur Pelaksana Radar Banyuwangi Syaifuddin Mahmud. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)





Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74402/ragam-cara-ipnu-banyuwangi-kembangkan-sdm-kader

Editing : Ahmad Muttaqin

Wednesday, 4 January 2017

Ini Pesan Terakhir Mbah Umar Syahid

Mbah Umar Syahid atau Mbah Umar Sumbu menitipkan sejumlah pesan kepada warga NU untuk menjaga persatuan, menjaga keimanan keluarga, menjaga nama baik NU. Semuanya itu harus dilakukan nahdliyin agar NU tetap menjadi panutan masyarakat.

Demikian pesan terakhir Mbah Umar kepada Wasekjen PBNU H Abdul Mun'im DZ beberapa saat sebelum meninggal di Pacitan.

Menurut H Mun‘im yang hadir di daerah Pacitan untuk pendidikan kader penggerak ranting NU beberapa waktu lalu, Mbah Umar adalah waliyullah yang selalu memikirkan NU dan bangsa Indonesia walaupun hidup dalam penderitaan.

“Karena itu, saat terjadi demo di Jakarta beliau mengajak keluarganya bermujahadah, karena dalam demo itu terdapat kelompok yang ingin melakukan makar. Beliau ulama waskito (makrifat). Walau tidak pernah lihat tv atau pakai hape, tapi ia tahu persis anatomi konflik politik nasional yang sedang terjadi,” kata H Abdul Mun’im DZ.

KH Umar Syahid, tokoh NU Pacitan, wafat dalam usia 132 tahun. Beliau adalah santri dan teman perjuangan KH Hasyim Asyari.  Waktu mudanya sesepuh Pacitan  itu hidup sebagai kiai kelana,  dengan jualan gerabah dan tumbuh. Hasil jualannya digunakan untuk membangun mushalla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo, dan Madiun. Karenanya beliau dikenal sebagai Mbah Tumbuh.

Saat peristiwa pemberontakan PKI 1948 di Madiun, beliau sedang jualan di sana. Ia menyaksikan langsung pembantaian para ulama. Ia selamat karena dikira sebagai orang biasa. Dia menjadi informan para kiai dalam menghadapi  PKI karena dia bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI, pungkas Mun‘im. (Red Alhafiz K)






Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74383/ini-pesan-terakhir-mbah-umar-syahid 
Editing  : Ahmad Muttaqin

Usia Mbah Umar Tumbu Pacitan Ternyata 132 Tahun


Kabar duka menyelimuti warga NU Pacitan dan Nahdliyin pada umumnya. Pasalnya kiai sepuh bernama KH Umar Syahid atau yang dikenal dengan Mbah Umar Tumbu wafat pada Rabu (4/1) pukul 22.55 WIB di RSUD Pacitan, Jawa Timur.

Mbah Umar  merupakan kiai tertua di Indonesia. Jika sebelumnya diberitakan bahwa ia wafat pada usia 114 tahun, ternyata menurut pengakuan Mbah Umar sendiri, usianya telah mencapai angka 132 tahun.

“Berdasarkan penuturan beliau sendiri, usianya sudah 132 tahun,” ujar Wasekjen PBNU KH Abdul Mun’im DZ ketika menjenguk Mbah Umar beberapa hari sebelum wafat. Kiai Mun’im berkunjung ke kediaman Mbah Umar bersama H Enceng Shobirin dan beberapa teman lainnya.

Menurut keterangannya kepada NU Online, Mbah Umar adalah santri dan teman perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari. Waktu mudanya, sesepuh Pacitan tersebut hidup sebagai kiai kelana dengan jualan Tumbu (wadah dari anyaman bambu, disebut juga gerabah).

“Karena itu beliau dikenal dengan sebutan Mbah Tumbu,” jelas Mun’im.

Hasil jualan Tumbu, imbuhnya, digunakan Mbah Umar Tumbu untuk membangun musholla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo, dan Madiun.

Seperti diinformasikan sebelumnya, bahkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebut Mbah Umar sebagai azimatnya warga Pacitan dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal itu ia ungkapkan ketika berkunjung pada 2010 silam.

"Mbah Umar itu termasuk minal muqorrobin ilallah (orang yang dekat dengan Allah) dan menjadi Azimatnya warga Pacitan dan kaum Muslim Indonesia pada umumnya," tutur Kiai Said saat bersilaturahmi di kediaman beliau di Pacitan tahun 2010 silam.

Mbah Umar merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Nur Rohman, Jajar, Donorojo. Pada masa remaja, ia nyantri di Pesantren Tremas Pacitan dibawah asuhan KH Dimyathi Abdullah.

Kecintaanya pada NU dibuktikan dengan istiqamahnya yang selalu hadir dalam tiap acara pengajian atau acara keagamaan yang digelar oleh NU atau pesantren. Dan selalu menunggui hingga acara selesai.

Tiap hari, kediamannya tidak pernah sepi dari para tamu yang sowan meminta nasihat atau doa darinya. Karena itulah ia dikenal sebagai kiai pelayan umat. (Red: Fathoni)




Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/74384/usia-mbah-umar-tumbu-pacitan-ternyata-sudah-132-tahun
Editing : Ahmad Muttaqin